1.
Klasifikasi
Tahap-tahap
Perkembangan Umur 12-17 Tahun
Pada dasarnya klasifikasi tahap perkembangan yang
dikemukakan para ahli berbeda-beda oleh karenanya dibutuhkan kesimpulan dari
para ahli yang dianggap paling mendekati kebenaran dari klasifikasi yang dibuat
oleh para ahli tersebut.
Mengenai klasifikasi tahap
perkembangan umur 12-17 tahun ini
ada beberapa pendapat para ahli yang dikemukakan seperti berikut diantaranya:
Tahap remaja awal ketika perkembangan
umur 11 atau 12 sampai dengan 16 atau 17 tahun menurut (Hurlock, 1990).
a. Perkembangan
usia 12 sampai 18 tahun merupakan tahapan masa perkembangan kategori remaja menurut (Monks, dkk, 1996:
255).
b. Perkembangan
umur 12 sampai dengan 18 tahun merupakan tahap masa remaja menurut (Ahmadi dan Sholeh,
2005: 121), yang mana
pada tahap ini terbagi menjadi dua, yaitu masa pubertas (pueral) yakni usia 12-14 tahun. Kemudian masa pubertas, yakni usia
14 sampai dengan usia 18 tahun.
c. Perkembangan
umur 13 sampai dengan 17 tahun merupakan tahapan masa pubertas (Santrock, 2012:
406).
d. Perkembangan
umur 13 sampai dengan 17 tahun adalah periode masa remaja awal (early adolescence) (Irwanto, dkk, 1989:
47).
Dapat ditarik kesimpulan untuk klasifikasi yang
paling mendekati, maka klasifikasi tahap perkembangan umur 12-17 tahun termasuk
pada kategori masa remaja. Alasannya
karena banyak para ahli yang lebih sependapat
bahwa kisaran usia 12-17 tahun adalah termasuk pada tahapan perkembangan
kategori remaja. Karena pada masa
ini ditandai dengan remaja yang sudah mulai mengalami
berbagai perubahan dalam hal fisik yang cepat serta adanya peningkatan dan perubahan psikologis
yang begitu drastis.
Dalam segi fisik misalnya tinggi badan, berat badan, dan perubahan bentuk yang lainnya. Sedagkan untuk
kondisi psikis misalnya sikap yang berubah-ubah dikarenakan remaja pada saat
tersebut berada dalam proses pencarian jati diri.
Pada masa ini, mereka berusaha untuk mencapai tahap kemandirian serta berusaha
untuk menemukan identitas atau jati diri mereka sendiri. Pemikiran mereka menjadi
lebih kritis, logis, abstrak serta idealis. Remaja juga lebih banyak meluangkan
waktunya diluar rumah dibandingkan dengan menghabiskan waktunya bersama
keluarga di rumah (Santrock, 2012: 18).
2.
Perkembangan
Kognitif
Perkembangan
kognitif berhubungan erat dengan kecerdasan dan proses berpikir peserta didik
dan ranah terpenting peserta didik sebagai ranah psikologisnya berada pada otak
(Syah, 2011: 82)
Masa
remaja dapat dikatakan apabila suatu individu telah mampu representatif
simbolis, tanpa menghiraukan atau menghadapi objek-objek yang ada dihadapan
mereka. Pola pemikiran remaja lebih bersifat leluasa atau fleksibel, mereka
sudah mampu melihat suatu permasalahan atau persoalan dari berbagai sudut
pandang yang mereka miliki (Irwanto, dkk, 1989: 55-56).
Masa
remaja yang termasuk dalam Perkembangan
kognitif masa atau tahapan operasional formal
ketika usia (12 tahun keatas)
(Piaget dalam Irwanto, dkk, 1989: 55).
Tahapan operasional formal adalah tahapan seorang remaja
sudah mampu berpikir secara abstrak (Piaget dalam Santrock, 2012: 423).
Berpikir secara abstrak yang dimaksud ialah seorang remaja dalam
berpikir tidak lagi terbatas pada pengalaman-pengalaman atau sesuatu yang
sifatnya konkrit atau nyata. Apabila dihadapkan pada suatu objek, mereka tidak
akan berpatokan secara terus menerus terhadap objek yang ada dihadapannya,
melainkan mereka mampu merekayasanya seakan benar-benar terjadi, sekalipun apa
yang mereka rekayasa itu masih berupa kemungkinan atau hipotesis serta
proposisi yang masih abstrak, namun remaja berusaha untuk membuat penalaran
yang sifatnya tetap logis. Pada tahap operasional formal ini seorang remaja
sudah mampu memperkirakan ataupun mempertimbangkan hal-hal yang sifatnya
mungkin disamping hal-hal yang sifatnya aktual atau nyata (Gleitmen dalam Sunarto,
1999).
Pada tahapan operasional formal ini
tidak semua remaja mampu berada pada tahap ini, karena hal tersebut tergantung pada
tingkat intelegensi yang dimiliki oleh masing-masing remaja dan pengaruh lingkungan yang berada disekitarnya. Apabila remaja mempunyai tingkat IQ atau
intelegensi dibawah 90%, mereka kemungkinan besar belum mampu memiliki
pemikiran operasional formal ini. Selain berpikir secara abstrak, seorang
remaja juga telah
mampu untuk berpikir secara logis.
Mereka memiliki kemampuan dalam pemecahan masalah secara trial-and-error, yang
artinya remaja telah mampu berpikir seperti seorang ilmuwan.
Sebelum memecahkan suatu masalah, mereka biasanya membuat rencana pemecahan
masalah terlebih dahulu, yang
nantinya akan disertai pula
hipotesis-hipotesis didalamnya,
kemudian
diajukan sebuah solusi (Santrock, 2012:
423).
Kemampuan
berpikir secara operasional formal mencakup dua sifat penting didalamnya
(Monks, 1996: 217-218), antara lain yaitu:
1) Sifat
deduktif-hipotesis
Seorang
anak yang perkembangan kognitifnya termasuk pada tahapan operasional konkrit,
dalam menyelesaikan suatu masalah cenderung langsung menuju masuk ke pokok
permasalahannya. Ia hanya akan menggunakan beberapa jalan penyelesaian yang
bersifat konkrit dengan hanya melihat akibat secara langsung terhadap upaya
penyelesaian masalahnya itu.
Sedangkan
pada remaja yang termasuk dalam tahapan operasional formal dari perkembangan
kognitifnya, jika dalam menyelesaikan masalah cenderung melakukan langkah atau
cara teoritis terlebih dahulu. Ia melakukan analisis dalam proses penyelesaian
masalahnya dengan disertai hipotesis-hipotesis yang baginya memungkinkan. Atas
hasil analisisnya ini kemudian remaja mencoba mengajukan strategi atau jalan
penyelesaiannya. Kemudian remaja mengadakan beberapa pendapat atau proposisi
tertentu lalu menghubungkan beberapa proposisi yang berbeda-beda itu. Sehingga,
kemampuan berpikir secara operasional formal ini juga disebut kemampuan
berpikir secara proporsional.
2) Berpikir
operasional formal dapat disebut
dengan berpikir kombinatoris.
Maksud
dari sifat
ini dapat dijelaskan dan diuraikan melalui contoh sebagai berikut:
Sekelompok
individu yang dihadapkan pada berbagai macam larutan yang berwarna. Dengan
adanya kombinasi-kombinasi warna akan membuat larutan-larutan minuman berwarna
itu berubah menjadi warna baru atau warna yang lain. Kemudian mereka diminta
untuk mencari dan menemukan macam-macam kombinasi itu.
Jika
seorang anak yang perkembangan kognitifnya masih dalam tahapan operasional konkrit,
dalam mencari dan menemukan kombinasi-kombinasi itu cenderung tidak sistematis,
namun secara trial and error,
sehingga ia menemukan kombinasi itu hanya secara kebetulan saja. Tetapi setelah itu si anak
tidak akan mampu mengulang atau memproduksi kembali kombinasi yang telah
ditemukannya secara kebetulan tadi. Sehingga ia menemukan kombinasi itu tidak
secara empiris.
Lain
lagi dengan remaja yang
perkembangan kognitifnya sudah pada tahapan operasional formal, mereka mencari
kombinasi-kombinasi itu dengan memikirkannya terlebih dahulu secara teoritis,
semisal membuat matriks mengenai berbagai macam kombinasi warna yang memungkinkan.
Kemudian secara teoritis mereka berusaha untuk mencoba setiap sel matriksnya
dengan secara empiris. Jika remaja tersebut telah berhasil menemukan kombinasi
warna yang benar-benar mungkin, maka si remaja tersebut tetap mampu membuat dan
memproduksi kembali kombinasi warna yang telah mereka temukan.
Sehingga,
dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan berpikir secara operasional formal
pada remaja juga akan mendorong mereka untuk mempunyai tingkah laku “problem solving” yang memang benar-benar
ilmiah, seta memungkinkan bagi remaja itu untuk melakukan suatu pengujian
terhadap hipotesis-hipotesis dengan menggunakan variabel-variabel tergantung.
- Implementasi
Tindakan Guru Terhadap Perkembangan Kognitif
a.
Sebagai guru
kita harus memberikan sebuah dorongan motivasi kepada peserta didik agar
peserta didik dapat mengeksploitasi kecerdasan kognitif yang mereka miliki
karena dalam pemberian motivasi dapat berpengaruh besar terhadap perkembangan
kognitif peserta didik sehingga mendorong peserta didik untuk mengembangkan kemapuan
dan peserta didik akan lebih aktif lagi dalam proses pembelajaran.
b.
Sebagai guru
dapat menggunakan tindakan berupa metode pendekatan belajar yang orientasinya
berpusat pada pemahaman terhadap isi materi yang ada dalam pembelajaran yang
selanjutnya guru dapat memberikan sebuah permasalahan yang harus dipecahkan
oleh peserta didik. Sehingga perserta didik dapat merangsang otak mereka untuk
berpikir dan membuat solusi pemecahan terhadap permasalahan yang terjadi
tersebut sehinngga memberikan dorongan partisisipasi peserta didik dalam
memecahkan suatu permasalahan.
c.
Sebagai guru
dapat juga memainkan sebuah nilai terhadap peserta didik karena apabila kita
sebagai guru memberikan nilai yang baik maka peserta didik akan semangat untuk
belajar dan mendorong keinginannya untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi
lagi. Sedangkan jika kita sebagai guru memberikan nilai yang kurang baik
terhadap peserta didik maka pesrta didik akan mendapatkan tekanan dan frustasi
sehingga mendorong sikap peserta didik untuk belajar lebih giat lagi agar
selanjutnya mendapatkan nilai yang lebih baik kedepannya. Hal tersebut dapat
membantu untuk mengembangkan kecerdasan perserta didik.
d.
Sebagi guru kita
dapat mebuat sebuah tugas dalam kerja kelompokyang dimana hal tersebut akan
membuat peserta didik mendapatkan suatu doronngan kuat dari proses belajar
kelompok. Dalam kerja kelompok tersebut peserta didik diharuskan untuk berdiskusi
dalam menyelesaikan suatu persoalan yang dapat dipecahkan bersama dengan
anggota kelompoknya sehingga hal tersebut bisa mengasah kemampuan kognitif
peserta didik.
e.
Sebagai guru
kita dapat memberikan sebuah strategi tertentu misalnya dengan pemberian pujian
terhadap peserta didik yang dapat menjawab sebuah pertanyaan dengan cepat dan
tepat. Hal tersebut terbukti membangun kondisi belajar yang baik dan mengembangkan
kecerdasan agar peserta didik lebih giat, tanggap, dan aktif dalam suatu
pembelajaran sehinngga perkembangan afektifnya tersokong .
3.
Perkembangan
Afektif
atau Sikap
Remaja pasti akan mengalami masa
pubertas, masa pubertas ini biasanya terjadi pada usia 14-18 tahun (Ahmadi dan
Sholeh, 2005: 121). Masa pubertas adalah masa dimana sudah terjadi kematangan
dari segi seksual yang sebenarnya, hal ini dibarengi dengan terjadinya
perkembangan dari segi fisiologis yang berhubungan dengan kematangan kelenjar
endokrin (Ahmadi dan Sholeh, 2005: 121).
Dengan adanya perubahan
dalam segi kematangan ini, dihadapkan
pula oleh perubahan-perubahan sikap pada remaja. Dimisalkan pada remaja laki-laki, terdapat
perubahan sikap dalam hal mimik bicara, cara berpakaian, cara bagaimana mengatur rambutnya,
penggunaan bahasa yang ucapkan,
gerak tubuhnya, dan perubahan-perubahan sikap yang lainnya. Sedangkan
perubahan-perubahan sikap pada remaja perempuan seperti perubahan dalam cara
berbicara, cara bagaimana tertawa, cara berpakaian, cara berjalan, cara
menghias diri, serta perubahan-perubahan sikap yang lainnya (Ahmadi dan Sholeh,
2005: 123).
Pada masa pubertas
biasanya sering muncul adanya perasaan-perasaan negatif pada diri seorang
remaja. Perasaan-perasaan negatif ini biasanya diwujudkan dalam bentuk
keinginannya untuk melepaskan diri atau membebaskan diri dari kedua
orangtuanya. Remaja cenderung mulai memberontak, tidak lagi tunduk dengan apa
yang diperintahkan oleh orangtuanya. Namun disini dalam artian bukan ingin
bebas sebebas-bebasnya, melainkan hanya saja si remaja ingin menyamakan
keinginannya seperti layaknya orang dewasa (Ahmadi dan Sholeh, 2005: 123).
Ketika remaja, cenderung adanya sikap egosentrisme (Elkind
dalam Monks, 1996: 112), yakni
dimana remaja tidak mampu membedakan antara sesuatu yang dipikirkan olehnya
sendiri dengan sesuatu yang dipikirkan oleh orang lain. Remaja ini lebih cenderung memikirkan
pada apa yang menurut orang lain terhadap dirinya, ia lebih menginginkan
pendapat orang lain terhadap dirinya, seakan-akan ia sangat mengharapkan pujian
atau pusat perhatian di lingkungan manapun ia berada. Ia memberikan reaksi
terhadap apa yang telah ia harapkan sendiri yang tercermin melalui pendapat
dari orang lain.
Sehingga,
dengan adanya sikap yang seperti itu membuat remaja tidak mampu membedakan
antara apa yang dipikirkannya dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain.
Remaja lebih mengutamakan perasaannya sendiri sehingga menganggap bahwa orang lain
dalam istilah “publik imajiner” yang berada dilingkungan manapun ia berada
senantiasa menaruh perhatian terhadap dirinya. Sikap Egosentrisme pada masa
remaja ini pada umumnya hanya berlangsung secara sementara, namun terkadang ada
pula egosentrisme yang bertahan sampai lama.
Ada juga beberapa
perubahan afektif atau sikap pada waktu remaja ini menurut Batubara (2010: 27),
baik itu perubahan sikap yang mengarah pada keburukan atau bersifat negatif,
ada pula perubahan sikap yang mengarah kepada kebaikan atau bersifat positif.
a. Perubahan
sikap negatif:
a) Begitu
ingin lepas dari orangtua, karena remaja pada dasarnya mencintai kebebasan.
b) Mulai
sering mengeluh terhadap orangtua, karena ia merasa bahwa orangtuanya bersikap
terlalu ikut campur dalam kehidupannya.
c) Kurang
menghargai pendapat orangtua, bahkan tidak sama sekali
d) Sangat
memperhatikan dalam hal penampilan.
e) Memiliki
keinginan untuk mendapatkan teman baru.
f) Sering
merasakan sedih atau dengan kata lain moody.
g) Muncul
aktivitas seperti sering menulis buku harian.
h) Begitu
memperhatikan kelompok mainnya.
b. Perubahan
sikap positif:
a) Keinginan
untuk menemukan identitas diri atau jati diri menjadi semakin kuat.
b) Memiliki
ide-ide yang besar.
c) Dapat
menyampaikan perasaan atau ekspresinya melalui kata-kata.
d) Menghargai
orang lain.
e) Memiliki
minat yang cenderung konsisten.
f) Memiliki
kebanggaan dan kesenangan tersendiri atas apa yang telah ia lakukan atau
kerjakan.
g) Munculnya
selera humor.
Ada pula beberapa
perasaan-perasaan negatif yang sering remaja rasakan antara lain yaitu:
1) Keinginan
untuk menentang lingkungan, dimana remaja cenderung melakukan berbagai hal atau
tindakan untuk menentang lingkungan disekitarnya yang dirasa tidak sesuai
dengan apa yang diinginkannya.
2) Selalu
merasa gelisah, dalam artian dirinya selalu merasa berada pada keadaan yang
tidak tenang.
3) Remaja
cenderung menarik diri dari lingkungan masyarakat. Maksudnya disini adalah
remaja cenderung menentang apa yang telah ada di masyarakat.
4) Remaja
cenderung kurang bekerja, namun juga terkadang cenderung gemar bekerja.
5) Kebutuhan
fisiologisnya, terutama kebutuhan tidur menjadi semakin besar dan meningkat.
6) Remaja
cenderung bersikap pesimis.
Berikut
ini disajikan tabel mengenai perbedaan sikap hidup antara remaja laki-laki
dengan remaja perempuan menurut Ahmadi dan Sholeh (2005: 125) :
No.
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
1
.
|
Lebih cenderung memberi
|
Lebih cenderung menerima
|
2.
|
Lebih cenderung memberikan
perlindungan terhadap yang lain
|
Lebih cenderung untuk menerima
perlindungan itu, merasa dilindungi
|
3.
|
Minat yang dimilikinya cenderung
mengarah pada hal-hal yang yang sifatnya intelektual dan abstrak
|
Minat yang dimilikinya lebih
cenderung mengarah pada hal-hal yang sifatnya emosional dan konkret
|
4.
|
Lebih berusaha untuk memutuskan
sendiri serta ikut berbicara
|
Lebih berusaha untuk menjadi
pengikut serta berusaha untuk menyenangkan orangtua
|
5.
|
Cenderung bersifat saklijk serta objektif
|
Cenderung bersifat personlijk serta subjektif
|
-
Implementasi Tindakan
Guru terhadap Perkembangan Afektif atau Sikap
a. Sebagai guru kita harus memberikan pola pembiasaan
sikap tertentu kepada peserta didik. Misalnya dengan memberikan sikap jyang
baik terhadap peserta didik yang kemudian akan menumbuhkan perasaan senang
peserta didik terhadap guru. Perasaan senang tersebut akan membuat peserta
didik bersikap baik pula terhadap guru. Sehingga tercipta perkembangan afektif
yang baik di dalam diri peserta didik.
b. Menamkan sikap jujur kepada peserta didik dalam
mengerjakan sesuatu mulai dari hal yang kecil. Misalnya memberikan soal yang
bersifat analisis kepada peserta agar peserta didik dapat menganalisa sendiri
dan mengerjakan sendiri tugas yang diberikan oleh guru. Dan contoh-contoh soal
seperti pendapat pribadi seorang peserta didik dalam menghadapi suatu
problematika yang ada. Sehingga hal tersebut dapat merangsang bekerja secara
individu dan kecurangan-kecurangan dalam mengerjakan sebuah tugas atau pun
ujian bisa di minimalisir. Sehingga dengan hal-hal tersebut peserta didik lebih
terbantu dalam perkembangan afektifnya.
c. Mengembangkan sikap peduli terhadap pesrta didik baik
dari segi interaksi dengan sesama peserta didik, interaksi dengan guru, orang lain maupun interaksi dengan
lingkungannya. Miasalnya peserta didik diajarakan peduli dengan interaksi
sosial dengan bertutur kata yang sopan dan bagaimana untuk tetap menjaga
lingkungan sekitar. Pedagogi peduli
dapat membentuk sebuah landasan moral peserta didik yang lebih
bertanggung jawab terhadap interaksinya tersebut. Sehingga perkembanngan
afektif melalui sikap peduli ini sangat berpengaruh besar.
4.
Perkembangan
Psikomotor atau Keterampilan
Perkembangan psikomotor
atau keterampilan pada masa remaja berkembang seiring dengan pertumbuhan fisik
seperti ukuran tubuh, kemampuan fisik serta perubahan fisiologis. Remaja
laki-laki cenderung memiliki keterampilan gerak yang lebih meningkat
dibandingkan dengan remaja perempuan, karena dalam kondisi-kondisi tertentu
remaja laki-laki lebih baik dan menguntungkan (Husdarta dan Kusmaedi, 2010:
110).
Perkembangan
Psikomotor merupakan
perkembangan mengenai penguasaan tingkat pengendalian terhadap gerakan-gerakan
tubuh yang terjadi melalui koordinasi kerja ataupun koordinasi fungsional
antara sistem syaraf dengan sistem otot (Husdarta dan Kusmaedi, 2010: 103).
Remaja laki-laki cenderung memiliki
kekuatan yang lebih, kecepatan ynag lebih,
kelincahan yang lebih, daya tahan yang lebih. Sedangkan pada remaja
perempuan, kemampuan gerak hanya akan mengalami peningkatan sampai pada masa
sebelum menstruasi, setelah menstruasi peningkatan itu tidak lagi memungkinkan,
apalagi setelah mencapai usia 14 tahun (Husdarta dan Kusmaedi, 2010: 110).
Ada beberapa bagian tubuh tertentu
yang pertumbuhannya cenderung meningkat sehingga mendorong penguasaan terhadap kemampuan
gerak pada bagian-bagian tertentu pula.
Masa remaja adalah masa yang sangat tepat untuk melakukan peningkatan ukuran
tubuh, kemampuan fisik serta penyempurnaan dalam hal keterampilan gerak
(Husdarta dan Kusmaedi, 2010: 110).
- Implementasi
Tindakan Guru terhadap Perkembangan Psikomotor atau Keterampilan
a.
Sebagai guru
perlu menerapkan sebuah metode dimana seorang guru dapat menjadi seorang
fasilitator dikelas yang maksudnya ialah guru menjadi seorang yang multifungsi
sebagai moderator dan juga evaluator. Sehingga peserta didik dapat berkreasi
sendiri melaui kreativitas, inovasi, dan imajinasi yang mereka miliki .
sehingga perkembangan psikomotor peserta didik dapat terdorong serta memberikan
kapasitas kemampuan peserta didik yang lebih dari pada menggunakan metode yang
lain.
b.
Sebagai guru
dapat memberikan wadah terhadap kreativitas peserta didiknya dengan mewadahi
keterampilan dan minat mereka melalui ekstra kulikluler yang dapat menjadi
sarana dan prasarana minat dan bakat peserta didik selain di bidang akademik.
Wadah ini diharapkan dapat menunjang perkembangan psikomotor atau keterampilan
yang mereka miliki.
c.
Guru juga dapat
menggunakan metode diskusi dikelas agar dapat merangsang psikomotor peserta
didik. Metode diskusi ini dapat melatih
berbicara peserta didik sehingga keterampilan dalam berbicara dapat dilatih dan
dimaksimalkan ketika peserta didik melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi.
5.
Perkembangan
Emosional dan Psikologis
Remaja ialah masa yang dianggap
sebagai masa yang sulit dalam hal emosional (Hal dalam Santrock, 2007: 18).
Banyak yang beranggapan bahwa remaja adalah masa yang diselimuti stress dan
depresi, tetapi nyatanya tidak selamanya seperti itu. Memang tingkat emosi
mulai dari tingkatan yang tinggi sampai ke tingkat emosi yang rendah lebih
meningkat pada masa remaja (Rosenblum dan Lewis dalam Santrock, 2007: 18).
Remaja sering merasakan seperti ia berada dipuncak, seolah dipandang di seluruh
dunia, namun berikutnya ia juga merasa tidak dihargai bahkan tidak berharga
sama sekali. Pada masa remaja, mereka lebih sering merajuk, bahkan tanpa alasan
yang logis sedikitpun. Emosi mereka cenderung meledak-ledak, bahkan dihadapan
orangtua mereka sekalipun.
Sebuah
penelitian menyatakan bahwa remaja merupakan
seseorang yang sangat moody, dalam
artian emosinya mudah berubah-ubah (Rosenblum dan Lewis dalam Santrock, 2007:
19). Pada dasarnya, moody ini adalah tahapan yang memang dilalui remaja untuk
menuju ke tahapan dewasa yang lebih kompeten. Tetapi moody ini juga harus
diwaspadai karena juga akan mengakibatkan permasalahan yang serius, khususnya
remaja perempuan yang ternyata lebih rentan atau mudah mengalami depresi
(Nolen-Hoeksema dalam Santrock, 2007: 19). Ada beberapa alasan mengapa remaja
perempuan lebih cenderung memiliki tingkat depresi yang tinggi, yaitu:
a. Remaja
perempuan cenderung tenggelam dalam depresi mereka, dalam artian mereka mudah untuk baper, sehingga hal itu semakin
memperkuat depresi tersebut.
b. Body image remaja
putri cenderung lebih bersifat negatif dibandingkan dengan remaja laki-laki.
c. Remaja
perempuan lebih cepat dalam masa puber dibandingkan pada remaja laki-laki.
Fluktuasi emosi pada remaja ini sebagian besar
disebabkan oleh perubahan hormon, karena pada masa puber, salah satu tandanya
adalah perubahan hormon yang signifikan, ditambah lagi dengan peningkatan emosi
yang negatif (Archibald, dkk, dalam Santrock, 2007: 19). Apabila sudah berada
pada masa peralihan menuju dewasa, moody ini kemungkinan akan menurun seiring
dengan adanya penyesuaian atau adaptasi terhadap kadar hormon yang ada dalam
tubuh (Rosenblum dan Lewis dalam Santrock, 2007: 19). Selain perubahan hormon,
moody ini juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pola makan, aktivitas
seksual, stress, dan hubungan sosial (Rosenblum dan Lewis dalam Santrock, 2007:
19).
Pada masa remaja,
terdapat beberapa perubahan-perubahan dalam segi psikologis, diantaranya yaitu
:
a. Remaja
mulai mengalami krisis identitas
b. Jiwa
remaja bersifat labil
c. Kemampuan
verbalnya meningkat yang berfungsi sebagai ekspresi diri
d. Remaja
sangat membutuhkan teman dekat atau sahabat
e. Cenderung
mulai melalaikan orangtua, kurang menghormati, bahkan sempat berkata kasar
f. Mencari
tempat lain atau orang lain selain orangtua, seperti sahabat atau pacar
g. Meskipun
sudah pada tahapan remaja, namun mereka juga terkadang bersikap kekanak-kanakan
h. Adanya
pengaruh-pengaruh dari teman sebayanya (peer group).
(Batubara, 2010: 27)
- Implementasi
Tindakan Guru terhadap Perkembangan Emosional dan Psikologis
a.
Sebagai guru
dapat dilakukan hal semacam candaan atau humor dikelas dalam menerangkan sub
bab tertentu dikarenakan pada masa remaja terjadi perubahan sikap yang
berubah-ubah pada peserta didik sehingga sebagai guru perlu untuk memegang
kendali suasana kelas agar tidak terkesan monoton atau membosankan sehingga
perkembangan emosional dan psikologis peserta didik menjadi baik dalam aspek
pembelajaran yang sedang dalam proses.
b.
Sebagai guru
juga dapat dilakukan pendekatan-pendekatan mengenai karakteristik dan kondisi
psikolgis peserta didik sehingga guru dapat mengetahui dan juga memberikan
metode tepat untuk peserta didik tersebut. Misalnya untuk peserta didik yang
kondisi emosionalnya tinggi atau temperament dapat dilakukan metode dengan
tetap menjaga perasaan peserta didik agar sikap dan emosionalnya dalam kondisi
yang stabil. Yang akhirnya memungkinkan perkembanngan emosional peserta didik
menjadi terkontrol dengan baik.
6.
Perkembangan
Religius dan Moral
Perkembangan
moral merupakan perubahan mengenai perasaan, penalaran, serta perilaku tentang
mana yang benar dan mana yang salah. Perkembangan moral ini memiliki sifat
mengatur, yaitu mengatur segala perilaku, tindakan, dan aktivitas manusia (Gibbs dalam Santrock, 2007: 117).
Sebuah penelitian menyatakan
bahwa seorang remaja perempuan lebih memiliki tingkat kereligiusan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan remaja lak-laki (King dan Roeser dalam Santrock,
2012: 441). Kemudian ada pula penelitian yang menyatakan bahwa remaja pada
kisaran usia 13 sampai dengan 17 tahun, khususnya remaja perempuan lebih
memiliki intensitas kunjungan yang lebih tinggi terhadap tempat-tempat ibadah
serta aktivitas keagamaan atau religius yang lainnya, karena mereka menganggap
bahwa agama yang membentuk kehidupan mereka sehari-hari, mereka sering
melakukan kegiatan doa, serta remaja perempuan disini lebih merasa dekat dengan
Tuhan mereka (Smith dan Denton dalam Santrock, 2012: 441).
Tahapan moral
ini dimulai pada usia 8 tahun keatas hingga dewasa, sehingga perkembangan moral
pada masa remaja termasuk dalam tahapan ini. Pada masa ini, ajaran-ajaran dari
orangtuanya mengenai apa yang benar dan apa yang salah sudah mulai berubah
tergantung pada kondisi atau situasi yang terjadi, atau juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang lain. Seorang remaja sudah mampu memahami alasan-alasan atau
latar belakang dari setiap aturan-aturan yang ada di lingkungan masyarakat,
sehingga ia mampu mempertimbangkan secara rasioanl konsekuensi yang akan
diakibatkan oleh perilaku-perilakunya (Irwanto, dkk, 1989: 57-58).
Pada
tahap perkembangan moral ini, seorang remaja sudah mampu berpikir dan mulai mempertanyakan
mengenai rasa kecintaan terhadap Tuhan, penciptaan alam semesta, dan lain-lain
(Good dan Willoughby dalam Santrock, 2012: 442). Dengan adanya pemikiran remaja
yang lebih logis maka mendorong si remaja untuk mengembangkan hipotesis yang
lebih sistematis mengenai berbagai macam jawaban terhadap berbagai macam
pertanyaan spiritual (Good dan Willoughby dalam Santrock, 2012: 442).
Dalam
suatu sampel acak nasional pada tahun 2000 yaitu mengambil remaja yang berusia
11 hingga 18 tahun, mereka cenderung memiliki tingkat religius yang tinggi,
lebih sedikit dalam hal merokok, mengurangi minum-minuman beralkohol,
penggunaan ganja, pembolosan sekolah, kenakalan remaja, sehingga terjadi
berbagai pengurangan dan penurunan dalam kegiatan-kegiatan yang negatif (Sinha,
Cnaan dan Gelles dalam Santrock, 2012: 442-443).
Remaja
yang religius lebih banyak menerapkan kasih sayang, cinta dan kepedulian
terhadap sesama. Ada sebuah survei yang membuktikan bahwa remaja yang religius
tiga kali lipat lebih sering berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan
(Youniss, McLellan dan Yates dalam Santrock, 2012: 443).
Lima perubahan mendasar
yang harus diupayakan oleh remaja menurut
Mitchell dalam Husdarta dan Kusmaedi (2010: 190-191), antara lain yaitu:
a. Pandangan
moral remaja yang kian abstrak.
b. Keyakinan
moral lebih cenderung berpusat pada apa yang benar, namun kurang terhadap apa
yang salah.
c. Penilaian
moral lebih cenderung kognitif, dimana remaja sudah mulai berani dalam hal
mengambil keputusan terhadap berbagai macam permasalahan moral yang
dihadapinya;
d. Penilaian
moral remaja yang menjadi kurang egosentris;
e. Yang
mahal dalam penilaian moral adalah penilaian moral dalam segi psikologis,
karena penilaian moral tersusun atas bahan emosi, sehingga mengakibatkan adanya
ketegangan psikologis.
- Implementasi
Tindakan Guru terhadap Perkembangan Religius dan Moral
a. Guru dapat memberikan pembelajaran moral kepada siswa
dengan pembacaan doa sebelum dimulainya suatu pemmbelajaran dikelas. Misalnya
dengan pembacaan Asma’ul Husna dan surah Al-Fatihah agar diberikan kelaancaran
dalam proses belajar dan mengajar. Pembiasaan ini dapat dilakukan setiap hari
agar peserta didik dapat terbiasa dengan adanya kebiasaan tersebut sehingga
peserta didik mendapatkan perkembangan moral dan religius yang yang mencukupi.
b. Guru juga dapat melakukan metode dengan membuat
program ekstra kerohanian terhadap peserta didik guna menambah aspek moralitas
dan juga perbaikan sikap yang kurang baik. Peserta didik diharapkan denngan
adanya program ekstra kulikuler seperti Rohis misalnya dapat membentuk karakter
peserta didik yang lebih bermoral dan
taat aturan yang berlaku.
c. Guru dapat melakukan kebijakan-kebijakan yang berbasis
religi misalnya guru yang mengajar pada jam pertama sekitar jam 7 sampai dengan
jam setengah 9 dapat melakukan kebijakan sholat sunnah Dhuha bersama guna
memberikan kebiasaan sholat sunnah sehingga menambah kecintaan terhadap religi
dan perubahan sikap peserta didik dalam bagaimana memandang pentingnya sholat
sunnah selain juga sholat wajib yang harus dilaksanakan.
d. Guru dapat memberikan ceramah atau pun bimbingan yang
bersifat rohani kepada peserta didik walaupun guru tersebut bukanlah guru
agama. Misalnya dengan memberikan ceramah sedikit tentang kerohanian di
sela-sela waktu pembelajaran yang sedang berlangsung di dalam kelas. Sehingga
peserta didik fokus kajian pembelajarannya diberi pencerahan dan pandangan
berbeda dalam proses pembelajaran.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Sholeh, Munawar. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Husdarta dan Kusmaedi, Nurlan. 2010. Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik
(Olahraga dan Kesehatan). Bandung: Alfabeta.
Irwanto,
dkk. 1989. Psikologi Umum. Jakarta:
PT Gramedia.
Monks,
F.J, dkk. 1996. Psikologi Perkembangan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Santrock,
John W. 2012. Life-Span Development
Perkembangan Masa Hidup. Jakarta : Erlangga.
Santrock,
John W. 2007. Perkembangan Anak.
Jakarta: Erlangga.
Syah,
Muhibbin. 2015. Psikologi Belajar.
Jakarta: Rajawali Pers.
Syah,
Muhibbin. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Batubara,
Jose RL. 2010. Adolescent Development: Perkembangan
Remaja. Jakarta: Sari Pediatri. Vol.12, No.1: 27.
Komentar
Posting Komentar